Aku menyaksikan kau sekarat, menangis dengan darah yang keluar dari pelupuk matamu. Kau tak pernah tertidur ditengah malam dengan nyenyak.
Seharusnya kau patut tahu dengan menyenderkan ia kebahuku semua akan hilang, namun kau bersikukuh akannya.
Kau melakukannya. Kau tolol, itu terpampang jelas.
Dibalik itu semua, kau hanya melihat dari lukamu. Anjing jelaga, kau hanya atasmu. Kau tak pernah berpikir atas orang lain. Dan kini, kau tetap menangis, setiap malam. Darah keluar dari matamu, telingamu.
Aku tetap mematung puas. Ternganga bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar