Opaque Theater
The show is begin. So hurry up, take your mask.
Sabtu, 15 September 2012
Biarkan Aku.
Berhenti menatapku penuh iba. Berhenti menghakimiku dengan perkataan lembek kepadaku. "Mengapa gadis sebaik dirimu harus mendapat perlakuan seperti ini? Dia tidak pantas memiliki gadis sebaik dirimu". Mana aku tahu! Mengapa kalian malah bertanya padaku disaat aku membutuhkan ribuan jawaban atas ketidakjelasan yang kuhadapi? Mengapa kalian malah meantapku seakan akulah gadis manis yang lemah dan akan mati sesegera mungkin apabila hal ini terus terajam. Berhentilah! Kumohon! Aku sedang berusaha menikmati dan mensyukuri segala bentuk kejadian yang Tuhan berikan kepadaku. Mau kalian apa, hei? Senangkah kalian apabila aku semakin mengingatnya lantas merutuki sebisaku? Itukah mau kalian? Ya, memang. Selama ini penampungan yang kulakukan terhadap cerita kalian tidak berbayar, namun mengertilah satu hal. Apabila kalian tak cukup sudi mendengarkan kisah hidupku, tak usah bertanya. Tak usah sibuk mengurusiku dengan dalih perduli. Sampah. Aku tak meminta hak lebih atas tanggapanku yang kalian anggap bijak. Tahu satu hal? Apapun itu, kalimat iba apapun itu, menghalangiku untuk sesegera mungkin bangkit dari sini. Kembalilah pada masalahmu, banyak barangkali yang musti kau selesaikan daripada aku atas masalahku yang hanya bisa kalian tatap. Untuk apa? Demi apapun yang pernah aku yakini, itu tak penting. Menjauhlah. Aku tak butuh.
Kau dan Sekuntum Bangkai yang Kau Pertahankan
Aku menyaksikan kau sekarat, menangis dengan darah yang keluar dari pelupuk matamu. Kau tak pernah tertidur ditengah malam dengan nyenyak.
Seharusnya kau patut tahu dengan menyenderkan ia kebahuku semua akan hilang, namun kau bersikukuh akannya.
Kau melakukannya. Kau tolol, itu terpampang jelas.
Dibalik itu semua, kau hanya melihat dari lukamu. Anjing jelaga, kau hanya atasmu. Kau tak pernah berpikir atas orang lain. Dan kini, kau tetap menangis, setiap malam. Darah keluar dari matamu, telingamu.
Aku tetap mematung puas. Ternganga bahagia.
Seharusnya kau patut tahu dengan menyenderkan ia kebahuku semua akan hilang, namun kau bersikukuh akannya.
Kau melakukannya. Kau tolol, itu terpampang jelas.
Dibalik itu semua, kau hanya melihat dari lukamu. Anjing jelaga, kau hanya atasmu. Kau tak pernah berpikir atas orang lain. Dan kini, kau tetap menangis, setiap malam. Darah keluar dari matamu, telingamu.
Aku tetap mematung puas. Ternganga bahagia.
So, this is my-fucking-angel-self
OH, YOU'RE A PRINCESS? BUT I'M THE QUEEN, SLUT ;)
Hei. Ini tanggapanku. Persetan denganmu yang terkejut atau bahkan hingga mati membacanya. Aku bahkan tidak perduli dengamu yang mengesankan dirimu lembek bukan kepalang. Untuk sekedar menyembunyikan tiga kepala ular didalam jiwamu. Lalu kau menyebut dirimu Putri. HA!
Lawakanmu kali ini berhasil membuatku terpingkal habis - habisan. Bagaimana tidak, kau tak lebih dari gumpalan kapas yang menutupi makanan busuk. Menghina dan mengata - ngatai sampah segenap kekurangan berlian disekitarmu. Kau pikir kau bukan sampah?
Langganan:
Postingan (Atom)